HIKMAH
FANATISME YANG POSITIF
( AHMAD SYAFIUL ANAM )
Biasanya untuk menguatkan sebuah kedudukan , posisi serta image yang baik terhadap seseorang atau kelompok dengan menggunakan doktrinasi terhadap kelompok tersebut. Sejarah menceritakan banyak sekali person atau kelompok yang ingin melanggengkan kedudukan mereka dengan doktrinasi sehingga melahirkan loyalitas buta yang sering kita sebut dengan fanatisme.
Fir’aun untuk melanggengkan kekuasaanya dengan sombongnya mengaku sebagai Tuhan, karena dorongan fanatisme buta pulalalah menjadikan orang-orang Mesir saat itu banyak yang memuja Fir’aun. Begitu juga dengan slogan merasa sebagai bangsa terbaik di dunia yang di berkahi Tuhan, menjadikan orang-orang Yahudi sombong dan berkeinginan untuk merajai dunia.
Rasulullah datang membawa Syariat yang hanif ( Condong kepada kebenaran) mengajarkan kepada kita tentang standarisasi keunggulan. Ketika haji Wada’ (Perpisahan) Rasulullah berkhotbah dan menyampaikan: “ Wahai Manusia sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, ayah kalian satu, ingatlah tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas seorang Ajam, seorang Ajam atas seorang Arab, seorang berkulit merah atas kulit hitam, seorang berkulit hitam atas kulit merah kecuali dengan takwa “ ( HR Ahmad )
Dalam hadits tersebut Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa ketakwaanlah yang akan menjadi sebuah sesuatu yang bernilai dalam pandangan Allah, dan bukan sesuatu yang bersifat materi dan nisbi.
Pada dasarnya fanatisme adalah hal yang bisa membangkitkan kepada sebuah kebanggaan, tetapi ketika ketika fanatisme ini diarahkan kepada hal keduniaan dan bukan berorientasi kepada Allah maka akan menjadi sia-sia dan tak berguna.
Sebagai seorang muslim sudah seharusnya ia menjelma menjadi seorang yang fanatis terhadap agamanya, dia yakin dengan seyakin-yakinnya akan kebenaran Islam agama yang dipeluknya. Fanatisme disini bukanlah membanggakan madzhab atau kelompok tertentu yang dianutnya, melainkan kesadaran yang penuh akan kemuliaan dan keagungan Islam sebagai agama yang mengeluarkan manusia dari kekafiran menuju cahaya keimanan. Perbedaan kelompok atau madzhab yang terjadi di tubuh kaum muslimin janganlah menjadi alasan untuk berpecah. Fanatisme positif adalah ketika semua kaum muslimin merasa bangga telah menjadi muslim dan kemudian saling bekerjasama dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil alamin. Isyhaduu biannaa muslimuun……..
(Surakarta 28 Maret 2012 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar