KHOTBAH JUM'AT

Selasa, 28 Februari 2012

KEBENARAN KIAMAT


  HIKMAH

KEBENARAN KIAMAT
(Ahmad Syafiul Anam,Lc)

          Beriman kepada hari kiamat adalah salah satu dari rukun iman yang harus kita yakini. Seseorang yang tidak beriman kepada hari kiamat maka batallah keimanannya.
          Islam mengajarkan kepada kita bahwa kiamat pasti akan datang tanpa keraguan di dalamnya. Mengenai kapan datangnya hari tersebut Allah sengaja merahasiakannya agar manusia dapat beramal sebaik-baiknya selama di dunia dan mendapatkan balasan kebaikan di akhirat kelak. Dengan ketidaktahuan manusia akan datangnya hari kiamat tersebut akan menjadikan mereka berhati-hati dalam beramal selama di dunia dan tak akan berbuat dzalim terhadap mereka sehingga mereka akan selalu berusaha berbuat kemaslahatan untuk manusia, mereka akan berusaha beribadah dan taat kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
          Tak seorangpun manusia yang mengetahui dengan pasti kapan datangnya kiamat bahkan Rasulullah sekalipun. Dalam hadits yang diriwayatkan imam Bukhari Rasulullah pernah didatangi Jibril dan ditanya :"Wahai Muhammad, kabarkan padaku tentang kiamat". Rasulullah SAW menjawab: "Tidaklah seorang yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya". Rasulullah hanya memberitahukan kepada Jibril sebagian tanda-tandanya:"Saat seorang budak perempuan melahirkan tuannya dan saat kau melihat seorang yang berjalan tanpa alas kaki, telanjang, miskin dan menggembal kambing berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan".
          Dalam hadits tersebut dengan jelas dinyatakan bahwa Rasulullah tidak tahu kapan kiamat datang melainkan hanya memberitahukan sebagian tanda-tandanya saja.
          Kita sebagai seorang muslim meyakini dengan tanpa ragu akan kebenaran kiamat dan meyakini hanya Allahlah yang mengetahuinya, sementara tanda-tanda kiamat yang diberitahukan kepada kita hanyalah sebagai pengingat agar kita waspada dan berhati-hati dalam kehidupan dunia. Seorang yang menyatakan bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal sekian, bulan sekian dan tahun sekian maka alangkah sombongnya ia karena ia telah mengambil hak Allah sebagai satu-satunya Dzat yang maha mengetahui akan datangnya hari tersebut.
          Semoga Allah menyelamatkan kita di hari saat tiada orang yang selamat kecuali seorang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih dan  bertauhid.

Surakarta, 12 Desember 2009
         

         

MEMILIH PASANGAN HIDUP


HIKMAH
MEMILIH PASANGAN HIDUP
(Ahmad Syafiul Anam,Lc)
          Ketika seseorang akan membangun sebuah rumah tentulah terlebih dahulu ia harus membuat pondasi kokoh dan memilih bahan material yang berkualitas tinggi agar rumah yang dibangun kelak kuat, tidak mudah roboh serta tahan lama.
          Demikian pula ketika seorang akan membangun sebuah rumah tangga, maka hal yang harus dilakukan adalah mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menjamin kelestarian bangunan rumah tangga. Diantara pondasi penting sebuah rumah tangga adalah bagaimana cara seseorang memilih pasangan hidupnya. Ketika seseorang memilih pasangan yang terbaik maka bahtera rumah tangga akan berjalan harmonis.
          Dalam hal ini, Rasulullah memberikan tuntunan sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah: “Wanita dinikahi karena empat hal: Karena hartanya, kehormatannya, kecantikannya dan agamanya; maka beruntunglah dengan menikahi wanita karena agamanya” (HR Bukhari & Muslim).
          Islam telah menjadikan pernikahan Sesuatu yang istimewa. Islam menginginkan pernikahan yang membawa kepada sakinah (ketenangan & tempat bersandar), mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang), Islam menghendaki pernikahan yang akan membawa kepada kebahagiaan dunia & akhirat. Islam menempatkan pernikahan sebagai sarana untuk menebar kemaslahatan baik kepada individu maupun masyarakat, pernikahan islami akan senantiasa melahirkan generasi-generasi rabbani.
          Semua tujuan ini tidak akan terwujud kecuali jika kita memilih seorang wanita salehah yang memahami Islam secara kaffah. Dengan menikahi wanita salehah maka hidup ini akan semakin bermakna dan dipenuhi kebahagiaan. Semoga Allah senantiasa merahmati dan menuntun kita kepada kebahagiaan abadi.

(Surakarta, 12 April 2011)

Senin, 27 Februari 2012

MEMAKMURKAN MASJID : SEBUAH KENISCAYAAN

KHOTBAH JUM’AT
MEMAKMURKAN MASJID: SEBUAH KENISCAYAAN*
( Ahmad Syafiul Anam,Lc)
الحمد لله أمر المسلمين بعمارة المساجد ، لتكون منارا للشّريعة  ونشرا للمصالح ومنطلقا للفوائد، فتذكّر فيها من تذكّر ويأباها كلّ جبّار عنيد  والصّلاة والسّلام على خير المرسلين، الّذي جاء بالهدى المبين والحبل المتين  وعلى آله وأصحابه المجاهدين الطّيّبين الطّاهرين. اللهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على ابراهيم وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على ابراهيم في العالمين إنّك حميد مجيد
قال الله تعالى : يآ أيّها الّذين آمنوا اتّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون  ( آل عمران 102)
وقال تعالى أيضا : يآ أيّها النّاس اتّقوا ربّكم الّذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبثّ منهما رجالا كثيرا ونساء واتّقوا الله الّذين تساءلون به والأرحام  إنّ الله كان عليكم رقيبا  ( النّساء : 1 )
وقال تعالى أيضا : يآ أيّها الّذين آمنوا اتّقوا الله وقولوا قولا سديدا  يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما ( الأحزاب : 71-70)
وقال صلّى الله عليه وسلّم: تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه  ( رواه مالك ابن أنس ) أمّا بعد :


Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
          Dalam kesempatan khotbah jum’at ini saya sebagai khatib berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah shalat Jum’at, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. karena takwa pulalah sebagai sebaik-baik bekal yang kita miliki :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ( البقرة : 197)
Dengan ketakwaan pula, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu kemudahan dan rezeki yang lapang kepada kita
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ( الطّلاق : 3-2)
Dengan ketakwaan pula, Allah memberikan garansi kebahagiaan kepada kita :
فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( المائدة : 100)
Semoga shalawat  dan salam tercurahkan kepada Rasulullah SAW, seorang mujahid sejati yang namanya senantiasa akan  diingat dalam setiap sanubari muslim   taat dan suci. 
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
          Ketika Rasulullah SAW  pertama kali datang ke Madinah dalam rangka melaksanakan perintah hijrah suci, ada tiga hal yang Rasulullah lakukan dalam memulai dakwahnya:  Pertama: Mempersatukan beberapa komponen masyarakat Madinah saat itu , Kedua : Mempersaudarakan  diantara para sahabat  muhajirin dan Anshor, Ketiga : Mendirikan  masjid sebagai pusat  dakwah dan  pembibitan kader-kader Muslim yang siap menghadapi  tantangan di masa depan. Dan  hal terakhir inilah yang akan coba kita kaji dalam kesempatan khotbah Jum’at ini  dengan sebuah  tema tentang “ MEMAKMURKAN MASJID: SEBUAH KENISCAYAAN “.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
          Ketakwaan seorang muslim  diukur  bagaimana kedekatan dan ketekunan ibadahnya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, masjid dalam  Islam memiliki kedudukan yang tidak kalah penting dalam perannya yang vital dalam mendidik dan membentuk karakter muslim. Pada zaman Rasulullah SAW, mesjid menjadi sentra kegiatan-kegiatan keislaman, saat  itu masjid merupakan tempat strategis umat. Rasulullah menjadikan masjid sebagai tempat untuk  beribadah  kepada Allah SWT  baik ibadah-ibadah yang wajib maupun yang sunnah, masjid juga digunakan untuk kegiatan Rasulullah mengajar ilmu agama kepada sahabatnya dan lain sebagainya. Masjid menjadi tempat yang paling  dirindukan umat untuk datang kesana.
          Mengapa  kita harus memakmurkan masjid ? Kita pasti sedih saat ini  kadang melihat begitu banyak masjid berdiri dan ternyata tidak memberikan  pengaruh dan warna kepada kehidupan masyarakat. Idealnya sebuah masjid harus bisa menjadi  teladan dalam kebaikan bagi masyarakat dan menjadi pioner dalam perubahan menuju yang lebih baik.
          Paling tidak ada 7 alasan mengapa kita  harus memakmurkan masjid :
Pertama : Masjid  merupakan tempat yang didirikan atas dasar ketakwaan. Masjid membawa spirit ketakwaan dan mendorong seseorang untuk senantiasa beristiqamah dalam  melakukan amal shaleh.
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ( المائدة : 108 )
Artinya : . Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri  ( QS Al Maidah :108 )

Kedua :  Merupakan ciri karakter seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ ( التّوبة :18 )
Artinya : Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk ( QS At Taubah : 18 ).
Dengan ikut memakmurkan masjid maka kita telah melatih diri kita untuk menjadi seorang mukmin sejati yang shalih secara pribadi maupun sosial. Dalam ayat tersebut Allah menyandingkan pelaksanaan shalat dengan zakat, ini menunjukkan bahwa aspek ibadah vertikal tidak kalah nilainya dengan ibadah horisontal.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
Ketiga ; Agar kelak pada hari kiamat kita mendapatkan naungan langsung dari Allah SWT.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ » (رواه مسلم )

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Bersabda :  Ada 7 golongan yang akan mendapatkan naungan  Allah pada hari tidak ada lagi kecuali naungan-Nya:……..  ( Diantara orang yang akan mendapatkan naungan adalah : Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid )…………… ( HR Muslim )
Dalam hadits tersebut sangat jelas sekali, bahwasanya orang yang hatinya terpaut dengan masjid akan mendapatkan naungan kelak, ketertautan hati dengan masjid akan menjadikan seseorang senantiasa berusaha memakmurkan masjid.

Keempat : Masjid merupakan tempat untuk mengagungkan  dan memurnikan tauhid kepada Allah SWT. Masjid adalah tempat yang sakral tidaklah boleh menggunakan masjid untuk kegiatan yang melanggar syariat  dan menodai  kesucian tauhid.

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا ( الجنّ : 18 )
Artinya:  Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.  ( QS Al Jinn : 18 )
Kelima : Masjid menjadi pusat dakwah dan pengembangan peradaban umat. Rasulullah SAW telah memberikan contoh dalam ini dengan dijadikannya masjid pada saat itu untuk mendidik para sahabat dengan tarbiyyah  Islamiyyah yang meliputi Tarbiyyah ruhiyyah, tarbiyyah jasadiyyah dan juga tarbiyyah aqliyyah. Tidaklah mengherankan dengan didikan yang penuh teladan ini maka lahirlah generasi-generasi unggul pasca wafatnya Rasulullah SAW. Beliau memuji generasi awal sahabat dalam haditsnya :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (متّفق عليه )
Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasi , kemudian masa setelah mereka, kemudian masa setelah mereka  ( HR Bukhori & Muslim )
          Marilah kita semua, meskipun kita hidup  hampir  15 abad setelah Rasulullah tidak mengurangi semangat kita untuk meninggikan agama Islam yang hanif ini dengan senanatiasa menjadikan masjid ini sebagai tempat  menempa karakter dan kepribadian kita.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
Diantara hal yang membedakan antara seorang muslim dan seorang yang munafik adalah bagaimana  sikap mereka terhadap keagungan masjid dan keikhlasan beribadah kepada Allah SAW. Seorang mukmin   akan senantiasa merindukan saat-saat  kedatangannya ke masjid sedangkan orang munafik pasti akan merasa malas-malasan dan berat untuk  datang masjid.
Hal lain yang membedakan lagi adalah seorang mukmin selalu akan menjadikan masjid sebagai tempat suci, maka  tidak mungkin ia  akan mengotorinya dengan kemaksiyatan.  Hal ini berbeda dengan seorang munafik yang pasti selalu menjadikan  masjid sebagai ejekan dan gurauan. Ketika mereka bertemu orang beriman mereka pura-pura baik dan seakan orang pertama yang mencintai dan membela Islam, tapi  ketika mereka berpisah dengan orang beriman maka mereka selalu mendeskriditkan Islam, menghina orang-orang Islam, memfitnah dan lain sebagainya. Semoga kita diselamatkan Allah SWT dari penyakit nifaq ini.

Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama dengan ikhlas dan tulus untuk bersama-sama menghidupkan masjid ini sebaik-baiknya dalam rangka  untuk meninggikan kalimat Allah. Sehingga  ALLAHU GHAYATUNA : Allah Tujuan kita, RASULUNA QUDWATUNA : Rasul Teladan Kita , WAL QUR’ANU DUSTURUNA : Al Qur’an  Pedoman Kita,  WAL JIHADU SABILU AMANINA :Jihad Sebagai Cita-Cita Mulia kita akan terwujud di masjid-masjid kita. Ketika kaum muslimin   seluruh dunia ini beristiqamah untuk memakmurkan masjid maka musuh jenis apa saja dapat kita hadapi baik itu : GERAKAN ZIONISME, KRISTENISASI, IMPREALISME , maupun ORIENTALISME.
Seorang Yahudi suatu  ketika ditanya : “ Kapan kami dapat mengalahkan engkau wahai yahudi? “, maka sang Yahudi menjawab dengan  lugunya : “ Apabila  jumlah umat kalian yang melaksanakan shalat Subuh sama dengan  jumlah mereka yang melakukan shalat Jum’at”. Dari ucapan sang Yahudi ini jelas bagaimana  begitu pentingnya  masjid sebagai benteng umat dalam menghadapai musuh-musih mereka.
Seorang missionaris yang sangat masyhur: Samuel Zwemmer pernah menyerukan kepada umat kristiani kurang lebihnya : “ Misi kita bukan hanya menjadikan semua  muslim masuk ke dalam agama kita, karena hal initidaklah mungkin. Yang terpenting lagi adalah bagaimana kita menjadikan mereka jauh dari agama mereka “.  Dari ucapan tersebut sangat jelas bahwa umat Islam saat ini menghadapi godaan-godaan yang akan menjauhkan mereka dari masjid. Ketika kita lalai mengurus masjid kita maka musuh-musuh  Islam akan mentertawakan dan mengejek kita.  Semoga Allah menjadikan kita semua umat yang senantiasa mencintai masjid dan menjadikannya sebagai tempat untuk memurnikan tauhid kepada Allah.
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ ( التّوبة : 108 )
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الآيات والذّكر الحكيم وقل ربّ اغفر وارحم وأنت خير الرّاحمين
* DITULIS PADA :SURAKARTA, 27 PEBRUARI 2012

PERNIKAHAN LINTAS AGAMA

KHOTBAH JUM’AT
PERNIKAHAN LINTAS AGAMA*
( Ahmad syafiul anam,Lc)
الحمد لله الذي جعل النّكاح عقدا وثيقا وميثاقا غليظا، وجعل الجنّة للمؤمنين نصيبا مفروضا ، والصّلاة والسّلام على من أكرمه الله بالنّبوّة والرّضا ، وغفر له من ذنوبه ما تأخّر وما مضى ، من استنّ بسنّته فقد أفلح ونجا ومن رغب عنه فقد خاب وزاده الله في قلبه مرضا، وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القضاء ، أشهد أن لآاله الاّ الله وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله لا نبيّ ولا رسول بعده
قال الله تعالى : يآ أيّها الّذين آمنوا اتّقوا الله حقّ تقاته ولا تموتنّ إلاّ وأنتم مسلمون  ( آل عمران 102)
وقال تعالى أيضا : يآ أيّها النّاس اتّقوا ربّكم الّذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبثّ منهما رجالا كثيرا ونساء واتّقوا الله الّذين تساءلون به والأرحام  إنّ الله كان عليكم رقيبا  ( النّساء : 1 )
وقال تعالى أيضا : يآ أيّها الّذين آمنوا اتّقوا الله وقولوا قولا سديدا  يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما ( الأحزاب : 71-70)
وقال صلّى الله عليه وسلّم: تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه  ( رواه مالك ابن أنس ) أمّا بعد :

Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
          Dalam kesempatan khotbah jum’at ini khatib berpesan kepada dirinya dan juga kepada  hadirin jamaah shalat Jum’at untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan  kepada Allah SWT. Dengan ketakwaan seseorang akan mendapatkan kebahagian  dan keselamatan kelak pada  sebuah hari yang tiada ada sesuatu apapun yang berharga di mata Allah kecuali keimanan.
يوم لا ينفع مال ولا بنون  إلاّ من أتى الله بقلب سليم  ( الشّعراء 89-88)
          Shalawat salam semoga tercurahkan kepada Nabi akhir zaman, Muhammad SAW.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
          Untuk melahirkan sebuah generasi  yang beriman dan bertakwa bukanlah sebuah hal yang mudah, melainkan membutuhkan perjuangan yang tanpa mengenal lelah.  Islam sebagai agama yang universal , relevan untuk segala zaman dan tempat telah mengajarkan kepada kita bagaimana mendidik  sebuah generasi yang berkualitas.
                   Sebuah  generasi yang berperadaban dan bermartabat hanya akan lahir dari sebuah masyarakat yang  berkualitas  dalam keimanan dan ketakwaannya. Dengan iman dan ketakwaan itulah menyebabkan turunnya rahmat dan berkah  pada sebuah umat.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( الأعراف : 96 )
Artinya:  Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya ( Al A’raf : 96 )
          Islam telah mengatur kehidupan manusia ini dengan aturan yang sangat indah dan memang ISLAM ITU INDAH. Diantara keindahan ajaran Islam adalah Islam mengajarkan bahwa mendidik sebuah generasi dimulai dari sebuah pintu yang bernama PERNIKAHAN.
          Pernikahan yang  sesuai dengan ajaran Islam pasti akan membawa kepada kebahagian sebuah keluarga baik kebahagian dunia  hingga kebahagiaan akhirat. Sudah menjadi sebuah hal yang lazim  bahwasanya seorang muslim lebih senang untuk menikah dengan seorang muslimah sebagaimana sebaliknya seorang muslimah akan lebih bahagia jika menikah dengan seorang muslim.
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ( النّور : 26 )
Artinya: Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ( An Nur : 26 )
          Pernikahan seperti inilah pernikahan yang ideal dan akan membawa kepada kebahagiaan  seorang muslim maupun muslimah selama mereka senantiasa berpegang kepada rel syariat yang hanif.
          Hanya saja dalam realita masyarakat saat ini kita banyak menemukan kondisi pernikahan pasangan yang berbeda agama. Pernikahan jenis seperti ini  banyak kita jumpai mulai dari rakyat biasa hingga pejabat maupun selebriti. Bagaimana Islam memandang hal ini, inilah yang akan menjadi topic dalam KHOTBAH JUM’AT kali ini.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
                Mari kita bersama-sama menjernihkan pikiran dan hati kita sehingga dalam memandang permasalahan ini kita tidak seperti  kisah beberapa orang buta yang memegang seekor gajah. Masing-masing memberikan deskripsi tentang gajah sesuai dengan pengalaman masing-masing.
          Bagaimana hukum seorang muslim menikah dengan wanita musyrik serta seorang muslimah menikah dengan laki-laki musyrik, dalam hal ini Islam dengan tegas mengharamkan kedua bentuk pernikahan ini.
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ( البقرة : 221)
Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik ( Al Baqarah : 221 )
          Bagaimana hukum seorang muslim atau muslimah menikah dengan ahlul kitab ( Yahudi atau Nasrani ).
                Dalam permasalahan ini  dikalangan ulama terjadi perbedaan pendapat, bahkan pada zaman sahabat sendiri mereka juga berbeda pendapat dalam sebagian kasus yang terjadi. Hanya saja  mereka semuanya sepakat akan haramnya seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki yahudi maupun laki-laki Nasrani. Tentunya hal ini dikarenakan sifat seorang wanita yang lemah sehingga dikhawatirkan akan  membahayakan akidahnya.
          Perbedaan pendapat terjadi dalam masalah boleh tidaknya seorang laki-laki muslim menikahi wanita yahudi atau Nasrani. Sebagian mereka membolehkan berdasarkan sebuah ayat :
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ( المائدة :5)
Artinya : (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.  ( QS Al Maidah 5 )
          Diantara sahabat ada yang melaksanakan pernikahan bentuk seperti ini, hanya saja ada hal-hal yang perlu kita catat. Sa’d Bin Abi Waqqash menikah dengan wanita ahlul kitab saat penaklukkan kota Kufah, itupun dikarenakan saat itu jumlah wanita muslimah masih sedikit. Utsman bin Affan menikah dengan wanita Nasrani dan setelah itu istrinya masuk Islam.
          Tapi ada juga diantara sahabat Nabi yang menolak untuk menikahi wanita ahlul kitab. Diantara mereka adalah Ibnu Umar dan Umar bin Khattab. Ketika Hudzaifah bin Yaman menikahi wanita Yahudi , Umar bin Khattab menulis surat kepada Hudzaifah: “ Saya takut kalian akan meninggalkan wanita muslimah dan lebih suka menikahi para pelacur  “.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
                Bagaimana melihat realita pernikahan beda agama di masa sekarang. Dalam pernikahan beda agama tentu ada segi positif dan segi negatifnya.
          Ketika kita mencermati fakta yang ada di lapangan saat ini, pernikahan beda agama dalam berbagai bentuk bahkan bentuk yang terakhir sekalipun banyak memberikan pengaruh yang negatif dalam kehidupan saat ini.
          Diantara akibat  negatif dari pernikahan tersebut adalah sebagai berikut :
1.Hilangnya ketengangan dalam jiwa
          Bagaimana mungkin sebuah pasangan akan merasakan kebahagiaan apabila diantara mereka terjadi komunikasi yang tidak sempurna. Toleransi yang ditampakkan barangkali hanyalah sebuah hal yang sementara dan pemanis saja.
2. Menjadi lahan empuk untuk gerakan pemurtadan
          Sudah bukan hal yangditutupi lagi, banyak kita temukan saat ini seorang muslim atau muslimah yang menikah beda agama kemudian menjadi murtad. Bagaimana tanggung jawab kita dalam menjaga akidah saudara seiman kita?
3. Terhalangnya hak-hak seorang anak dari tarbiyyah yang Islami
          Bagaimana mungkin sebuah keluarga akan memberikan tarbiyyah Islam yang sempurna, sementara seorang  ibu yang mendidik anak adalah seorang yang tidak faham dengan Islam
4. Menjauhkan diri dari menikahi wanita muslimah
          Bukankah saat ini banyak wanita muslimah, mengapa kita tidak memilih mereka sebagai  pengasuh generasi kita? Sebuah generasi yang diasuh seorang muslimah yang taat akan menghasilkan generasi yang rabbani
5. Tersebarnya pemikiran yang merusak
          Dengan banyaknya kasus pernikahan beda agama maka akan menyebarkan image bahwa pernikahan inipun bisa membawa kepada kebahagiaan sehingga orang-orang akhirnya meniru trend. Mereka mulai menggunakan cara piker rasionalis dan bukan mengedepankan kejernihan hati.
6. Lunturnya loyalitas dan kecintaan terhadap Islam
          Banyak kita temukan para pemikir yang meyakini bahwa semua agama adalah sama dan menuju kebenaran tunggal. Tentu ini adalah sebuah kesesatan. Bukankah Allah berfirman :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (آل عمران :85 )
Artinya:  Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. ( QS Ali Imran :85 )
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
                Dalam memulai biduk pernikahan  ada beberapa hal yang seharusnya kita perhatikan :
1.Islam menjadikan pernikahan sesuatu yang suci menuju kebahagiaan yang abadi. Pernikahan bukan sesuatu mainan atau gurauan melainkan sebuah ibadah.
2. Islam memerintahkan kita untuk memilih pasangan yang berkualitas. Seorang wanita yang memiliki agama yang baik maka akan membawa kebahagian.
3. Allah memerintahkan kita untuk bisa menjaga istri dan keluarga kita dari siksa neraka. Itu artinya pernikahan adalah jalan diantara jalan-jalan  yang Allah berikan kepada kita  menuju surga-Nya. Janganlah sebuah pernikahan justeru menjadi awal kesesatan dan penyimpangan yang akan membawa kita kepada siksanya yang pedih.
          Mari kita jaga akidah generasi penerus kita. Jangan biarkan mereka menjadi korban penyesatan dan pemurtadan yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu  yang baik harus dimulai dengan cara yang baik pula.
          Imam Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan dalam kitab “Al HIKAM “ nya:
من أشرقت بدايته أشرقت نهايته
Artinya : Barang siapa yang bersinar terang di permulaannya maka akan bersinar terang pula di akhirnya.
Sidang shalat Jum’at  rahimakumullah
                Ketakwaan  membawa seseorang untuk berhati-hati melewati sebuah jalan yang dilalui. Semoga Allah SWT menunjukkan kepada kita jalan yang lurus dan menyelamatkan kita dari kesesatan dan kebatilan.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ ( البقرة : 120)
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الآيات والذّكر الحكيم وقل ربّ اغفر وارحم وأنت خير الرّاحمين
*    : Teks Khotbah dibuat  Kamis 16 Pebruari 2012 dan sampaikan  dalam khotbah Jum’at  17  Pebruari 2012  di masjid Baitus Salam Sawah Karang Jebres Surakarta Jawa Tengah